21
12/07
Desainer harus bisa menulis
Posted in Curah Ide, DesignDulu, rasanya gua pernah sekilas melihat sebuah artikel yang isinya tertulis kurang lebih seperti ini jika diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia, "seorang desainer itu harus memiliki kemampuan menulis". Saat itu gua lupa untuk mem-bookmark alamat website-nya. Penasaran pengen baca lagi dan menggali lebih dalam tentang hal tersebut, gua mulai "meng-googling" hal tersebut.
Mmm, dan ternyata ada satu artikel bagus ini yang ditulis oleh Erik Karjaluoto, seorang creative director dan principal smashLAB. Judul artikelnya cukup jelas (bahkan sangat jelas dan tegas), "Designer Must Write". Di artikel itu, dia kurang lebih bilang bahwa menulis itu bagian dari eksplorasi ide. Sebenernya dia gak bilang melulu tentang "menulis" sih, tapi lebih ke "perihal pensil dan kertas".
Beberapa kutipan yang cukup menarik antara lain,
"Additionally, I find that these skills (maksudnya "writing") allow me to better explore and sort ideas.
I’m finding that ideas run on many of the same principles, whether in the form of word or image. It’s interesting to learn that a task which I perceived as a nuisance at times has in fact made me a better designer."
dan juga,
"Not using language efficiently is negligent and wasteful. It’s something a professional designer should never willingly do; nevertheless, I find that many of us shy away from these tasks, as we don’t feel that they are pure design. It’s sort of that attitude of, “that’s not in my job description”, that seems to keep us from strengthening this capability."
Perihal berkomunikasi dalam berbagai medium, oral, written, bahkan gesture, sebenernya bukan hal yang aneh dan baru bagi setiap orang. Hal-hal tersebut sudah kita lakukan bahkan sejak masih dalam kandungan ibu!. Ingat ketika kita masih menjadi bayi mungil di dalam perut ibu, kita menendang-nendang perut ibu, tanda kita sedang mencoba berkomunikasi dengan sang bunda, walaupun nggak jelas apa yang sedang dikomunikasikan, tapi aktifitas tersebut adalah murni komunikasi. Komunikasi adalah nyata tentang keseharian kita. Kita nggak mungkin hidup tanpa komunikasi, mengingat manusia adalah mahluk sosial, yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya.
Sebagai desainer, kita dituntut untuk selalu punya rasional atas apa yang kita buat. Kita harus bisa menjelaskan dengan detail kenapa dan atas dasar apa kita membuat dan memvisualkan sesuatu. Desainer juga harus sangat terbiasa mempresentasikan karya yang kita buat. Memang hal-hal tersebut kebanyakan dilakukan secara oral (lisan), dan oral adalah tentu sama saja dengan menulis. Bukan begitu? ah, jangan bilang berbicara itu lebih mudah daripada menulis, sama aja kok, bukankah keduanya sama-sama keluar dari kepala (pemikiran) kita?
Nah, kalau hal tersebut bisa dibilang sudah diluar kepala, lalu kenapa menulis menjadi sedemikian susah (bagi kebanyakan orang)? … tanya kenapa ..
Terkait dengan hal ini, beberapa waktu yang lalu, executive creative director gua di kantor pernah bilang, orang kreatif (baca: orang yang bekerja di divisi kreatif dalam sebuah advertising agency) itu adalah orang bisa berkomunikasi dengan baik. Orang kreatif yang sukses dan cepat mendapatkan promosi ke level yang lebih tinggi adalah orang yang bisa ngomong di depan klien, dan orang yang bisa ngomong di tengah sesi internal meeting. Memang hal tersebut nggak mutlak hanya itu saja, tapi faktor ini sedemikian penting, bahkan untuk orang yang nyata-nyatanya gak punya (minim) skill sama sekali, alias cuman modal ngomong doang!
Ah tapi lupakanlah untuk hal omdo alias omong doang tersebut, buat gua, orang-orang kayak gitu gak jadi apa-apa dalam kenyataannya.
Lebih lanjut muncul pertanyaan, apakah berarti seorang desainer harus sekaligus menjadi copywriter? mmm … tidak untuk menjadi keduanya sekaligus dalam satu waktu tertentu sih, tapi memiliki kemampuan copywriting itu nyata-nyata sangat penitng untuk seorang desainer. Bahkan, skill menulis (copywriting) sangat bisa menjadi acuan, apakah seorang desainer memiliki kapabilitas yang bagus atau tidak. Kenapa? gua pikir hal tersebut sangat benar, dan ini berlaku bukan hanya di dunia desain saja, tapi di berbagai bidang. Kenyataannya, isi otak seseorang bisa terlihat dari apa yang dia baca, dan apa yang dia tulis, dan tentu saja apa yang dia bicarakan. Dengan membaca kita jadi banyak tau (istilah yang sangat basi tapi bener… hehehe), dengan banyak tau kita jadi banyak referensi, banyak pertimbangan. Dengan makin banyak pertimbangan kita tentu jadi bingung kan? kalo sudah bingung, biasanya orang bertanya, menulis, dan gila .. hehehe … gua jadi inget cerita hidup Leonardo Da Vinci, juga pemikir dan inventor kelas dunia lainnya, tapi dengan menulis, kita bener-bener bisa melihat isi kepala seseorang. Mmm, ternyata desainer yang baik bukan cuman pintar bervisual saja ya?
Sebenernya banyak hal yang ingin gua sampaikan, tapi gak tau gimana nulisnya (mungkin isi otak gua yang kurang…hehehe), saking terlalu kompleks nya hal ini, dan melihat ternyata semua saling terkait dan menimbulkan efek berantai yang sangaatttt panjaaangg.
Pada akhirnya, gua menyadari betul bahwa, menulis itu merupakan sebuah medium untuk mengeksplorasi ide. Buat gua, menulis gua lakukan ketika bingung, dan gua cukup senang untuk menebar dan menularkan kebingungan ke orang lain…kekekeke. Bukankah sangat menakjubkan membaca novel (sebut saja) J.K Rowling atau Dan Brown, idenya luar biasa, cara bertuturnya luar biasa, dan bahkan yang lebih luar biasa dan gilanya lagi dari mereka berdua, mereka tidak membuat visual, tapi malah menciptakan visual di kepala kita yang membaca tulisannya! Edaaannn!
dan yang sangat sangat hebat nan briliannya lagi, tulisan kedua orang tersebut bisa menciptakan visual di kepala orang yang bahkan minim visual literacy-nya sekalipun!! Orang-orang bisa membayangkannya lewat sebuah visual! *sumpah, nyembah ratusan kali gua ke dua orang itu
. Dan dengan membaca karya tulisan dua orang tersebut, gua membayangkan, kira-kira apa saja ya isi kepala J.K Rowling dan Dan Brown?





yups, saya setuju sob..desainer harus bisa menulis, dengan menulis kita bisa menyampaikan informasi dengan lengkap..bukankah banyak juga desainer yang akhirnya bikin buku
Comment by Febra — January 12, 2008 @ 12:25 am