12
04/08
Pilkada Jabar
Posted in Curah Rasa, Curah Ide, MiscellaneousBeberapa jam lagi akan dilangsungkan pemilihan gubernur Jawa Barat, yang akan mempertarungkan 3 calon pasangan cagub-wagub Jawa barat periode 2008-2013. Posisi saya masih di Jakarta, dan saya akan melewatkan hak dan kewajiban saya untuk memilih cagub Jabar kali ini, walaupun orang rumah memberi kabar, kemaren sudah mendaftarkan nama saya sebagai pemilih dan kartu pemilih pun sudah ada di rumah saya, begitu kata orang rumah via telepon kemaren. Orang rumah juga mengkonfirmasi apakah saya akan pulang ke Bandung untuk memilih atau tidak. Saya jawab tidak, karena saya masih ada kerjaan di Jakarta. Terlepas dari isu cagub-wagub Jabar, dan karena percuma saya tulis saat ini karena besok sudah dilakukan pemilihan
Beberapa waktu lalu saya juga sempet baca visi-misi 3 cagub Jabar di blog ini. Baru sempat saya post tentang Pilkada Jabar saat ini, karena kemaren-kemaren sibuk dengan bung RS dan berbagai kericuhan tentang pemblokiran situs dan UU-ITE
Saya pribadi sebenernya pengen untuk memilih cagub dan wagub Jabar kalo memang waktu memungkinkan, saya akan pulang dulu, berhubung tidak memungkinkan seperti yang saya bilang, maka saya tidak memilih. Tapi saya melihat beberapa orang yang masih saja enggan untuk memilih di Pilkada Jabar 2008 ini. Kenapa sih enggan untuk memilih? Saya heran. Sehari-hari kita semua sering berkoar-koar tentang perlunya perubahan, perlunya reformasi, perlunya perbaikan, perlunya figur yang lebih baik, figur yang lebih bertanggung jawab, dan 1001 macam keluhan yang seolah tak pernah habis keluar dari mulut kita. Tapi giliran dipersilahkan untuk berpartisipasi dalam, contohnya Pilkada Jabar ini, eh malah enggan, dengan alasan yang sangat tidak masuk akal, seperti, “Males ah…”, atau “Ah buat apa milih toh akan begitu-begitu juga keadaannya…” atau malah yang lebih parah, “mending tidur/mending jalan-jalan…” …. Buset, parah!
Dulu, ketika Pemilu pemilihan presiden tahun 2004 (saat itu saya masih jadi mahasiswa), saya sering bilang ke temen-temen agar mereka menggunakan haknya untuk memilih. Se-apatis-apatis dan sepesimis-pesimisnya kita terhadap dunia politik di Indonesia dan seradikal-radikalnya pemikiran kita, tapi kita harus memilih! Kenapa? Jawabannya sangat sederhana. Pertama,apa susahnya memilih? Kedua, momen ini 5 tahun sekali, setidaknya 5 tahun sekali kita mencoba untuk pintar lah (dengan memilih), masa mau bodoh terus sih? Sehari-hari boleh lah kita jadi orang bodoh dan begajulan. Ketiga, itu tadi, kita setiap hari berkoar-koar, mengeluh, berdemo, menghujat pemerintah karena kebijakannya tidak pro-rakyat, tapi giliran disuruh milih, gak mau … kan aneh?. Padahal nyata-nyata pemilihan umum dilakukan agar ada figur baru yang mudah-mudahan lebih baik (dari figur yang lama), paling tidak untuk masa 5 tahun kedepan. Kalo figur terpilih ternyata gak becus? Ya pilih lagi yang baru dan jangan pilih yang lama. Terus, sampe kapan mau begitu terus? Sampai kapan pun! Perubahan ke arah yang lebih baik tidak mudah, bung! Buat saya, hanya orang bodoh (sangat bodoh) yang dengan sengaja melepaskan haknya (diluar kewajibannya) untuk memilih.
Mudah-mudahan Pilkada Jabar besok bisa berjalan lancar dan aman, dan mudah-mudahan figur baru nantinya bisa membuat Jawa Barat lebih baik dari sebelumnya.





