Renaming file with million times revision

Posted in Advertising, Curah Rasa, Miscellaneous

Here’s what i always doing to renaming the layout file (psd or ai) with a million times revision.

Here’s a first layout:
layout1-ok.psd

Client have some revision. Ok got it boss! *grin*:
layout1-ok-revisi1.psd

Ouch, another minor revision *straight face*:
layout1-ok-revisi2.psd

Great, approved, but with some revision *head scratching*:
layout1-ok-ok.psd

But wait, they’ve change their mind. Another revision *fuck*:
layout1-ok-banget.psd

Hold on, BOD don’t like it at all. REVISION A.S.A.P! *WTF?!*:
layout1-ok-banget11111.psd <— start to adding some unimportant & repetitive chars *sigh*

Ok, BOD has approved it. But a MINOR revision on headline *knocking mouse on head*:
layout1OK-FIXBANGETWAWAW.psd <— you must be carefull if seeing all uppercase stuff like this *tight my long hair like Buddha*

Stop. Client think the bodycopy is too long. Make a compact one. *give a shotgun to copywriter*
layout1-FIXBANGET-OKBANGET.psd

REVISION: remove that thin line, that period on bodycopy, and also that icon. Proceed to FA after that. *…..*:
layout1-TERAKHIRFIXBABIKS.psd

 

That’s my regular day at the office. Ohh, I just love advertising! *I mean it*

My Gagas Awards 08 Failed Submission

Posted in Advertising, Curah Ide, Design, Event

Gagas Award 2008 - Rizal Renaldi - Anom Bayu

2008 © Rizal Renaldi / Anom Bayu

Hancock dan Brand

Posted in Advertising, Curah Ide, Design

Beberapa minggu lalu saya menonton film berjudul Hancock, yang dibintangi oleh Will Smith. Bercerita tentang seorang superhero (Will Smith) bernama Hancock yang berkelakuan tidak selayaknya superhero yang ada dalam standar persepsi kita tentang seorang “superhero”. Hancock sebagai superhero yang digambarkan di film ini lebih tepat disebut begundal, perusak kota, dan pemabuk, namun betul-betul memiliki kekuatan layaknya Superman. Sampai akhirnya Hancock bertemu dengan seorang konsultan public relation bernama Ray Embrey, yang baru saja kecewa karena ide CSR (Corporate Social Responsibility)-nya ditolak para board of directors sebuah perusahaan farmasi. Alhasil sang konsultan brand ini “membantu” Hancock untuk merubah citranya menjadi superhero yang benar-benar superhero sebagaimana superhero semestinya.

Sebenarnya filmnya tidak berhenti sampai disitu, namun saya cukupkan ceritanya sampai disitu saja dulu, karena yang akan saya bahas disini lebih kepada bagaimana film Hancock mencoba mendeskripsikan secara sederhana perihal Brand dan Branding, lewat sebuah objek bernama “Hancock”.

Anggap saja Hancock adalah sebuah produk atau jasa. Persepsi konsumen (masyarakat kota) tentang Hancock sedemikian buruk, dan ini berpengaruh terhadap citra (image) Hancock. Harus dilakukan “langkah-langkah terintegrasi” yang akan merubah citra Hancock menjadi lebih positif sehingga nantinya Hancock lebih bisa diterima oleh konsumen. Satu hal yang perlu diingat bahwa Hancock adalah manusia. Dia memiliki sifat, karakter, dan kepribadian yang unik (disadari atau tidak). Semua elemen yang terlihat, terasa, terdefiniskan, terjewantahkan dari seorang Hancock nantinya harus bisa membentuk persepsi orang lain menjadi positif. Kurang lebih begitulah misi Branding Hancock ini. Misi ini juga yang dalam film tersebut dipegang teguh oleh Ray Embrey, yang dalam film tersebut menjadi seorang konsultan public relation dan juga menurut saya menjadi konsultan brand.

Sampai titik ini, jika Anda belum menonton film Hancock, Saya sarankan Anda untuk menonton filmnya terlebih dahulu. Sesudah menonton filmnya Anda bisa melanjutkan membaca tulisan ini. Jika ternyata Anda sudah pernah menonton filmnya namun belum sempat menyadari kaitan film ini dengan “Brand” dan “Branding”, Saya sarankan juga untuk menonton kembali filmnya untuk menyegarkan dan menguatkan kembali ingatan Anda tentang Hancock.

Inilah beberapa poin yang berhasil saya kumpulkan, dalam kaitan Hancock dengan Brand dan Branding:

• Brand harus “kuat” dan “jelas”
• Brand yang baik harus terencana dengan baik

Sejak awal sebenarnya film ini sudah memberitahukan satu hal pada kita perihal “kuat”, yaitu esensi dari superhero itu sendiri, yaitu “kuat”, dan brand harus “kuat”. Tapi mari kita batasi film semenjak Hancock masuk penjara. Saat itu adalah saat dimulainya proses pembentukan brand Hancock. Mencari core identity dari Hancock, menyadari hal apa saja yang layak dan tidak layak dilakukan, perlu dan tidak perlu dari Hancock (5W+H), menyadari SWOT atau TOWS (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat) dari Hancock, dll. Semua hal ini mendeskripsikan bahwa sebuah brand harus kuat dan jelas. Brand must be well-planned. Find it’s core identity, like Hancock at the jail.

Photobucket

• Brand harus fokus dan tunggal
• Brand yang besar adalah brand yang bisa me-maintain dirinya

Anda ingat konflik di film ini ketika Hancock bertemu dengan istrinya? Di film tersebut disebutkan bahwa Hancock tidak boleh berada berdekatan dengan istrinya tersebut karena kekuatan keduanya akan hilang, dan ini akan menyebabkan musuh-musuh mereka dapat dengan mudah menghabisi mereka. Single, well propositioned, not a kind, it’s must be the only one, must be unique. Another of a kind will just screw up the brand. Brand are threatened in every seconds. Keep maintain it. Fight it’s enemy. Huge brand doesn’t mean a conducive situation. Competitors will always hunting huge brand down, no matter how longer, no matter how it cost. 

 

• Brand adalah tentang persepsi
• Brand harus “nyata” bagi semua orang (konsumen)
Ingat ketika saat Hancock berada di penjara, lalu ternyata situasi di luar sana menjadi tidak kondusif. Kejahatan meningkat, polisi kewalahan menghadapi para penjahat. Saat itu adalah momen yang tepat untuk membentuk brand Hancock menjadi lebih positif. Dan benar saja, ketika Hancock melakukan aksi heroik dan positifnya yang pertama sejak ia dipenjara, lalu berhasil mengalahkan para penjahat perampok bank dan menyelamatkan para pengunjung bank yang ditawan perampok, persepsi masyarakat berubah 180 derajat menjadi sangat positif. Coba lihat foto yang saya sertakan untuk poin ini. Saat terjadi perampokan itu, padahal Hancock sama-sama menghancurkan fasilitas disekitar bank tempat terjadinya perampokan, tapi citranya mulai berubah karena saat itu Hancock mulai mempertimbangkan untuk menolong orang. Perception: People always remember a little bad things rather than a million good things. Actually, “old asshole hancock” was a brand. But it’s not a lovable brand. But it’s still brand anyway. The brand that doesn’t sell.

 

• Brand harus dikomunikasikan
Brand and publication (’initiative promo’ by media, hancock press conference), and sure media will build the brand.
Dalam film Hancock, Ray Embrey memberikan sebuah kostum kepada Hancock didalam penjara. Kostum disini bisa disebut brand attributes and brand communication; it’s part of visual communication. Brand also must be supported by many kind of communication channel (Public Relation, Publication, and of course Visual Communication).



• Brand bukan (semata) logo
Hancock have no logo on his chest, but if it’s well branded, the “logo” will always be remembered by consumers (people).
Namun bukan berarti logo menjadi tidak penting dalam Brand. Jika Anda sadari, hampir semua superhero memiliki simbol atau tanda (biasanya menempel di dada di kostumnya), hal ini menegaskan pentingnya visual sebagai sebuah tanda yang berkaitan dengan objek yang diwakilinya, inilah definisi logo. Dan sebuah visual (logo), akan (dan harus) mudah sekali diingat oleh setiap orang. Ketika anda mengingat huruf “S” besar maka akan dengan mudah anda mengkaitnya dengan Superman. Jika Anda mengingat sebuah lambang kelelawar berwarna hitam, sudah bisa dipastikan Anda mengingat Batman, dan jika Anda mengingat sebuah tanda mirip “Checklist” yang disebut “Swoosh”, tentu saja anda mengingat Nike, bukan Reebok dan bukan Adidas.

Beberapa catatan lain tentang brand dari film Hancock:

• It’s hard to maintain the brand. Because it’s always many people behind it. They’re just human. So treat the brand like human. Like Hancock.
• Build the brand, keep it up in a well proposition, and maintained it. Once the brand get “hurt”, people will raise it up and they’ll become “volunteer of brand defense army”

Sources:
http://en.wikipedia.org/wiki/Hancock_(film)
http://www.imdb.com/title/tt0448157/

Think The Opposite

Posted in Advertising, Curah Rasa, Books

Kira-kira 2 tahun lalu, Saya lihat buku "Whatever You Think, Think The Opposite" ini tergeletak di sofa kost-an seorang kawan. Entah kenapa saya tertarik sekali sama covernya, tapi saat itu saya sama sekali tidak membuka bukunya, hanya memegang, membolak-balikan bukunya, lalu saya simpan lagi. Beberapa hari yang lalu, Saya teringat kembali buku itu, dan saya pengen banget baca buku itu. Untuk urusan buku, terlebih yang harga jualnya relatif murah, saya tahu persis kemana harus mencari, Omunium di Bandung. Saya kontak Omunium ternyata mereka punya kopi buku yang versi terjemahan Indonesia, versi Inggris mereka gak punya. Gak apa-apa, Saya ambil. 

Beberapa saat setelah membeli buku ini, rencana saya, saya tidak akan langsung membaca buku ini. Saya akan cicil buat waktu senggang nanti, sekarang saya cuman mau lihat beberapa halaman awalnya saja. Ah, tapi dasar ini buku bagus yang sekali anda baca awalnya, anda gak akan sempat berpikir untuk berhenti ditengah halaman. Alhasil malam itu juga buku ini selesai saya baca hingga halaman terakhir. Jujur, ini pengalaman yang gak biasa buat saya, membaca langsung buku yang baru saya beli dan selesai baca seluruh buku dalam waktu yang sangat singkat, gak lebih dari 30 menit.

Paul Arden memang cocok jadi pemikir (filosof/filusuf?). Mantan executive creative director Saatchi & Saatchi ini memang luar biasa pemikirannya. Banyak hal-hal yang sifatnya keseharian dipaparkan dengan melihat lebih ke dalam, sehingga seringkali kita menemukan hal-hal yang tak kasat mata seolah keluar menyeruak. Buku ini amat ringkas, padat, dan jelas, bahkan beberapa halaman hanya diisi satu dua baris kalimat saja dengan ilustrasi foto atau drawing, yang menurut saya "sangat orang iklan banget" :)

Buku ini cocok buat orang yang menginginkan "pengalaman lain" dalam hidupnya, cocok juga buat orang yang senang menerima tantangan baru, dan tentu saja cocok buat orang yang selalu berpikiran positif, atau yang ingin mengetes seberapa optimisnya kita dalam menjalani hidup. Seperti pepatah kuno orang kita, "ya kalo bisa hidup sih yang lurus-lurus aja deh..", nah dengan mengikuti saran dari buku ini, semoga hidup tak lagi hanya "lurus-lurus saja". Ya, memang sedikit beresiko, tapi apalah artinya jika dibandingkan berharganya pengalaman setelah kita melakukan hal yang "sedikit beresiko" tersebut. Seperti sebuah kalimat yang terdapat di akhir penutup buku ini, di halaman 136 …. "Ubah saja hidup Anda".

Helvetica Movie by Gary Hustwit

Posted in Advertising, Design, Video, Movie


http://i159.photobucket.com/albums/t142/rizalrenaldi/reeblog/PXAM34DVD.jpg

About The Film

Helvetica is a feature-length independent film about typography, graphic design and global visual culture. It looks at the proliferation of one typeface (which will celebrate its 50th birthday in 2007) as part of a larger conversation about the way type affects our lives. The film is an exploration of urban spaces in major cities and the type that inhabits them, and a fluid discussion with renowned designers about their work, the creative process, and the choices and aesthetics behind their use of type.

Helvetica encompasses the worlds of design, advertising, psychology, and communication, and invites us to take a second look at the thousands of words we see every day.

The film was shot in high-definition on location in the United States, England, the Netherlands, Germany, Switzerland, France and Belgium. It is currently screening at film festivals and special events worldwide.

Interviewees in Helvetica include some of the most illustrious and innovative names in the design world, including Erik Spiekermann, Matthew Carter, Massimo Vignelli, Wim Crouwel, Hermann Zapf, Neville Brody, Stefan Sagmeister, Michael Bierut, David Carson, Paula Scher, Jonathan Hoefler, Tobias Frere-Jones, Experimental Jetset, Michael C. Place, Norm, Alfred Hoffmann, Mike Parker, Bruno Steinert, Otmar Hoefer, Leslie Savan, Rick Poynor, Lars Müller, and many more.

(taken from Helvetica Movie official website — www.helveticafilm.com)

This movie is GREAT. I personally write the word "great" with capital letters, because it’s just really great. "Helvetica" adalah sebuah film dokumenter yang dibuat oleh Gary Hustwit di tahun 2007 tentang Tipografi dan Desain Grafis, yang mengangkat jenis huruf (typeface) yang diberi nama Helvetica, sebuah jenis huruf yang di desain oleh Max Miedinger di tahun 1957. Film ini juga menandai ulang tahun ke-50 Helvetica. Huruf Helvetica yang termasuk dalam keluarga Sans-Serif ini disebut sebagai jenis huruf universal yang menandai dimulainya gerakan Swiss Design (International Swiss Design). Nama "Helvetica" terinspirasi dari nama latin untuk Swiss (Switzerland) yaitu "Helvetia". Karena tidak memungkinkan memberi nama huruf dengan nama negara, maka Helvetia disisipi huruf C menjadi Helvetica.
"…it should be neutral, it should have a meaning at it’s self; the meaning is in the content of text, not in the typeface. That’s why we love Helvetica so much."  - Massimo Vigneli

"it’s a crap, because it’s on every corner"  - Designers United

"- for me Helvetica is just beautiful timeless thing, and certain things shouldn’t be messed with"  - Michael C. Place (Build)


Dari menit awal film ini dimulai, hampir semua ucapan dari semua nara sumber penting banget, sampe-sampe gua yang tadinya mau nyatet beberapa quote penting malah kayak bikin transkrip film :D Berdasarkan apa yang gua tangkep, sebenernya isu yang paling mendasar dari film ini adalah perihal perbedaan pemikiran tentang tipografi diantara desainer grafis era 60an awal yang sekarang udah bangkotan (era modernism Massimo Vignelli; desainer signage New York Subway), desainer grafis era 80an (era postmodernism Emigre dan David Carson, Stefan Sagmeister, dll), dan desainer grafis era abad 21. Berdasarkan apa yang mereka ucapkan di film ini, keliatan banget sudut pandang mereka tentang Helvetiva (khususnya) dan Tipografi (umumnya). Desainer era Massimo tentu saja memuja Helvetica karena kesederhanaannya dan legibility-nya (baca: keterbacaan sebuah huruf). Desainer era Carson dan Sagmeister yang booming di era "grunge typeface", memaki-maki Helvetica justru karena kesederhanaannya, yang mereka bilang "tanpa jiwa", gak ada karakter, gak ada personalitas (personality). Nah justru yang menarik desainer era abad 21 justru malah blurred. Ada beberapa desainer menganggap Helvetica adalah the best typeface ever created, ada juga yang menganggap Helvetica is justs another crap, dan malah ada juga yang malah gak berpihak mmm, well i known Helvetica so much, but it’s just already there, sometimes i used it, and sometimes not. 

Bakal jadi buku kalo gua ceritain semua disini :P yang pasti film ini BENER-BENER menarik terlebih buat seorang desainer grafis. Believe me, every single word that came out from all the peoples in this movie are really important, especially to re-understanding what is typography and how it’s became the most important aspect in graphic design. 5 stars from me, two, three, five thumbs up. Very recommended.

Resources:

• Tentang jenis huruf Helvetica
http://en.wikipedia.org/wiki/Helvetica
http://typophile.com/node/13514?

• Tentang film Helvetica
http://www.helveticafilm.com/
http://en.wikipedia.org/wiki/Helvetica_(film)
http://www.imdb.com/title/tt0847817/

• Tentang tokoh-tokoh desainer grafis dan typeface designer
http://en.wikipedia.org/wiki/Typography
http://en.wikipedia.org/wiki/Massimo_Vignelli
http://en.wikipedia.org/wiki/Max_Miedinger
http://en.wikipedia.org/wiki/David_Carson_(graphic_designer)

Tugas membuat iklan untuk SMP

Posted in Advertising, Curah Rasa, Miscellaneous

Eh eh, menarik nih… :) Baru aja tiga detik setelah menulis post sebelum ini tentang AdSense di website portfolio, kebetulan liat referer ke blog ini, ada yang berkunjung, dilempar via google dengan keyword "Tugas membuat iklan untuk SMP". Wah, menarik ini!.. :) Anak SMP dapet tugas bikin iklan adalah sesuatu yang betul-betul menarik. Gua gak tau yang searching ini muridnya yang lagi cari referensi buat tugasnya atau gurunya yang lagi cari bahan buat tugas muridnya. Saya iri, dulu saya aja SMP gak pernah dikasih tugas untuk bikin iklan, yang ada malah disuruh bikin rumus matematika yang bikin kepala mau pecah :| 

Buat adik SMP atau mungkin bapak/ibu guru tadi yang kebetulan terlempar oleh Google ke blog ini, mohon kiranya adik atau bapak/ibu guru bisa menghubungi saya. Saya kepengen tahu lebih jauh, mungkin sekolahnya dimana atau tugas membuat iklan ini ada di pelajaran apa, dan banyak hal lainnya yang saya pengen ketahui perihal penugasan sekolah untuk bikin iklan ini :) Dengan senang hati saya juga siap untuk membantu kalo memang diperlukan. Silahkan tinggalkan pesan dan alamat e-mail di comment post ini, nanti akan saya hubungi kembali. :)

AdSense di website portfolio?

Posted in Advertising, Curah Rasa, Design, Internet

Tulisan berikut ini bukan sebuah tutorial atau tips dan trik seputar AdSense, tapi tulisan ini adalah sebuah sharing tentang apakah layak sebuah portfolio website personal, ditempeli iklan-iklan AdSense. Walaupun gua sebagai orang yang bekerja disebuah perusahaan periklanan, tapi kok rasanya "tidak layak" jika sebuah website portfolio pribadi kita ditempeli iklan-iklan. Gak salah sih, dan gak haram juga, tapi act wisely and know the right place to show some advertising material is good thing to start consider this thing. Saya secara pribadi juga tidak terlalu menguasai teknis AdSense. Hal-hal yang saya tahu hanya sebatas kulit luarnya saja. Jadi, mohon dikoreksi jika ada pernyataan-pernyataan saya yang keliru, terutama seputar teknis AdSense. :) Oh ya, sebelumnya, kenapa saya menulis tentang hal ini karena kemarin saya gatal melihat sebuah website personal portfolio yang memasang AdSense di halaman muka website-nya, dan menurut saya, memasang AdSense di website personal portfolio adalah sebuah kekeliruan. Saya nggak akan menyebutkan website-nya, silahkan anda temukan sendiri di jagat raya internet :) .

Sebuah website dengan jenis portfolio pribadi, merupakan sebuah "channel" self-promotion sekaligus juga self-branding dengan menggunakan medium dunia maya (internet). Dengan kita membuat sebuah website portfolio pribadi, diharapkan citra (image) diri menjadi meningkat disatu sisi (personal branding issue), dan disisi lain berfungsi juga untuk meraih klien-klien baru (promotion issue). Dua hal ini bisa berlangsung sejalan dan beriringan, tanpa harus saling mengorbankan satu sama lain. Website dengan jenis personal portfolio website tentu saja berbeda fungsinya dengan website dengan jenis dan kategori lain. Karena fungsinya yang berbeda pula itu, maka user yang berkunjung ke website jenis personal portfolio website juga akan berbeda dengan user yang datang ke misalnya detik.com.

Seperti yang mungkin sudah anda ketahui mengenai sistem AdSense, bahwa mereka akan memasangkan sebuah iklan berbentuk tekstual yang disesuaikan content iklannya dengan content sebuah website tertentu. Jadi misalnya jika isi dari website anda kebanyakan berupa artikel-artikel desain grafis, secara terus menerus dan berkala anda mengulang keyword "desain", "desain grafis", atau keyword lain yang hubungan dengan desain di artikel anda, maka AdSense akan menyesuaikan content iklan dengan tema "desain grafis". Nah, sekarang coba anda bayangkan ketika website portfolio anda dipasangi AdSense. Sebutlah anda memiliki website portfolio yang berisi karya-karya desain grafis anda. Kira-kira AdSense akan menampilkan iklan apa ya? … Benar, AdSense akan menampilkan iklan-iklan yang berhubungan dengan desain grafis tentunya, yang kemungkinan besar merupakan pesaing anda. Dan itu berarti anda secara sukarela mengiklankan kompetitor anda, bukan? Walaupun betul, jika user yang mengunjungi website anda mengklik iklan AdSense yang berarti anda dibayar, tetapi saat itu juga anda kemungkinan besar sudah kehilangan satu orang calon klien yang mungkin saja seharusnya menjadi klien anda. *Setelah akhirnya saya memasang Google AdSense di blog ini, saya baru tahu ternyata ada fasilitas "Competitive Ad Filter" di Google AdSense, dimana kita bisa memasukkan beberapa URL yang kita anggap sebagai kompetitor kita, untuk kemudian di-block dan tidak akan muncul di website kita. Tapi konsekuensinya kita harus sering memantau iklan-iklan AdSense di website kita, dan mencatat URL-nya untuk kemudian dimasukkan ke list URL di "Competitive Ad Filter". Jadi, saya tetap dengan pendapat saya sebelumnya bahwa website jenis portfolio pribadi tidak layak disisipi iklan-iklan AdSense :)

Satu hal juga, terkait dengan user behaviour, user yang berkunjung ke sebuah website portfolio pribadi, biasanya dan kebanyakan lebih spesifik. Mereka mencari sebuah jasa atau produk. Maksud saya, coba bandingkan dengan user yang berkunjung ke, sebut saja, detik.com, atau ke sebuah weblog, apapun topik utamanya. Pengunjung detik.com atau weblog (blog), tidak sedang mencari sebuah jasa atau produk. Mereka sedang mencari sebuah berita, tulisan, bacaan, informasi, dan artikel, jadi ketika mereka disodorkan sebuah iklan yang AdSense yang berhubungan dengan website yang mereka kunjungi, tentu saja mereka akan senang, karena range informasi yang didapatkan akan terasa lebih luas bagi pengunjung. Dan sebagai dampaknya, si pemilik blog juga akan kecipratan rejeki, karena berarti si pemilik blog akan dibayar oleh advertiser (pengiklan) karena iklannya di-hit oleh user. Hal ini tentu saja akan menjadi berbeda ketika AdSense hadir di website portfolio personal anda.

Saya pribadi gak tahu sama sekali maksud dan tujuan si empunya website tersebut memasang AdSense di website portfolio pribadinya. Asal jangan sampai tujuannya (kalau mengingat istilah dalam bahasa Sunda) ngarawu ku siku, dalam bahasa indonesianya "mengambil pake sikut" (bagian ujung lengan), mungkin secara singkat bisa diartikan "rakus". Kalau sudah begitu wah berarti anda keliru berat. Bukannya dapet lebih, anda malah gak akan dapet apa-apa, hanya gara-gara salah meletakkan AdSense di tempat yang tidak tepat. :)

The Great Brylcreem b:effortless Campaign

Posted in Advertising, Curah Rasa, Music

http://i159.photobucket.com/albums/t142/rizalrenaldi/reeblog/fsImageResize.jpg

Iklan krim pengklimis rambut?… mmm, banyak. Yang "cool"? Banyak. Tapi "Cool" yang satu ini beda. Ya, itulah yang ingin diangkat oleh Brylcreem dengan payung besar kampanyenya yang dikasih nama "Effortless". Kampanye ini sangat unik, menggabungkan beberapa guerillas activities di medium internet dan mengemasnya menjadi sebuah interactive marketing yang sangat menarik, terutama buat targetnya yang memang anak muda.

Kampanye Effortless ini digagas oleh Brylcreem UK, dan secara bertahap melancarkan kampanyenya mulai dari MySpace ini. Mereka mengadakan semacam kompetisi di MySpace, yang menantang para anak muda untuk menciptakan video paling unik dan mengupload-nya di MySpace/YouTube, dengan iming-iming yang menang akan menjadi talent sekaligus idenya akan dipakai sebagai ide TVC. 

Adalah Sam Veale yang kemudian terpilih menjadi pemenang, dengan videonya ini. Sesuai janji, diapun dipanggil untuk menjadi talent iklan Brylcreem Effortless ini. Dan kemudian dipilih pula B Raymond and the Voicettes sebagai pemenang untuk backsound dalam iklannya nanti. Hasil iklannya, bisa dilihat disini. Sebuah karya yang sangat menarik, eksekusi one take shot alias sekali jalan jadi membuat iklan ini layaknya masterpiece.

http://i159.photobucket.com/albums/t142/rizalrenaldi/reeblog/cd-cover.gifKampanye ini juga menghasilkan sebuah album kompilasi yang ditetapkan sebagai lagu-lagu yang terpilih dalam kampanye Effortless ini. Albumnya bisa didownload gratis di website Brylcreem. Lagu-lagu dalam album ini kesemuanya adalah non-signed artist alias artis yang masih berstatus sebagai band indie label. Beberapa artist yang masuk ke dalam kompilasi ini antara lain:
Vanity - Attack of the Gnomes
Breathe - Silverscene
I Feel Fine - Stray Dog & The Chocolate Snake
Ain’t So Pretty - The Guns of Pig Alley
Pins and Needles - The Cartelles
Colder - The Indie Soul Movement
If You Try Too Hard - 20,000 Dreams
Sweat Dreams - Krasnapolsky, Crisp & Frosty

Disebuah milist almamater kampus gua, gua pernah berkomentar tentang iklan ini. Gua bilang, "’cool’ … ok … then the guy using brylcreem is cool.Simple idea, and very well execution. tapi ada yg kurang nih kayaknya.. people use brylcreem to LOOK cool. It means, other people say that .. ‘He is cool’. Staying at home? … go outside dude, let those girls amaze your hair. am i right? :) " …. Noup i’m wrong, i’m totally wrong. What i’m thinking, actually a ‘lil bit too conventional and too old. :) kenapa? Karena justru dari hal yang gua bilang itu Brycreem lahir dengan ide Effortless ini, untuk gimana caranya keluar dari pemikiran ‘cool’ itu dan beranjak ke level ’cool’ yang lebih tinggi lagi, audience yang lebih mature, dan bukan tipikal anak muda yang gemar keluyuran hunting cewe. The ‘Brylcreem cool’ is more than that! :) At least itu yang tersirat di artikel case study UTalkMarketing ini (kayaknya yang nulis itu sang kreator iklan Brylcreem Efforless ini. cmiiw.). Layaknya sebuah brief marketing, semua disana. Very recommended to read.

Satu hal yang bikin gua terkagum-kagum dengan Brylcreem Effortless ini bukan semata-mata eksekusinya, tapi bagaimana sang agency iklannya merancang strategi kampanye besar ini, dan memanfaatkan medium internet untuk menjangkau audience, bahkan mulai dari ‘penggalangan ide’ iklannya! Seolah-olah interaktifitas itu mengajak partisipasi audience dalam merangcang iklan ini. Dipikir-pikir bener juga, digging some insights from audiences, lalu dipake dalam strategi iklan, it’s kind of common way. Kenapa gak, ibaratnya kita duduk bareng audience, sekalian digging insight, lalu digging creative ideas, sambil mengajak langsung audience untuk brainstorming, seolah mereka duduk dalam satu ruangan dengan kita (kreator iklan) untuk membuat iklan yang nantinya juga untuk mereka! Dan satu hal lagi, bahkan "behind the scene/making"nya pun mereka upload di YouTube, and guess what, this is a very effective word of mouth! Bener-bener kampanye besar yang terintegrasi dan efektif! luar biasa! :)

*Someday I want and I will make this kind of great campaign. Amin. Doakan Saya … :)

Gua embed juga iklannya, incase males ke YouTube. :) Cari juga “The Making”nya di section related videos-nya.

Kid Robot Munny Commercial

Posted in Advertising, Toys


Gokilllll!!!!! …. baru nemu video commercial Munny-nya Kid Robot nih dari Urban Vinyl Group di facebook… keren! :D

Apple dan loyalitas Apple Users

Posted in Advertising, Curah Rasa, Curah Ide, Mac, Design

Apa beNeR Mac iTu :
-angkuH tHdp d’oThers devices??
   -answeR :
   -d’Reason :
-idenTik dgn kegLamouRan??
   -answeR :
   -d’Reason :
-cLoseR to d’Rich man??
-identitas seseoRang mMproLeh pengakuan dekat dgn dunia IT??
-Menganggap diRi’y diAtas angin n ga Prnah tRgoyaHkan dgn OS Lain Lalu SeLaLu menghina OS Lain teRmasuk MacLovers’y??
-Bikin MacLovers’y jd bangga lantaran OS’y memuaskan n ga tRtandingi Lalu mReka buta jD sosok manusia yg angkuh, extreme, exclusivisme, apatis dkk, menutup telinga n mata mReka dR Lingkungan seLain Mac??

n I’m standing heRe…
still waiting n I reaLLy need yoUr answeRs…
d’Deepest fRom YouR heart…
fRom eveRy hearts…
heaRts oF d’MacLovers…


Pertanyaan-pertanyaan menarik diatas gua gua kutip kemaren dari MWI (mac.web.id). Walaupun tulisannya blinjat-blinjut kayak cewe-cewe ABG lagi sms curhat :P , tapi yang bikin gua tertarik adalah karena yang dia pertanyakan sebenernya adalah esensi branding strateginya Apple. Yang dia pertanyakan ini mungkin berdasarkan apa yang dia lihat, dia rasain, dan dia akumulasikan jadi sebuah kesimpulan-kesimpulan tertentu terhadap para Apple/Mac user dan berbagai tingkah lakunya. As we know so far, mac users atau apple users itu sangat loyal terhadap setiap produk Apple. Ibarat nya macintosh itu agama, dan Steve jobs itu tuhan buat para Apple/Mac users. Wah, akan sangat panjang sekali kalo kita memulainya dari apa itu brand dan branding, tapi kita coba lihat saja dari kenyataan yang ada.

Kenapa bisa begitu?
Apple, inc. (dahulu Apple Computer, inc.) memang sejak lama menjadi leader di industri komputer dan IT. Dari awal mula kelahirannya, Apple sangat konsisten dalam menjaga kualitas dan detail setiap produknya. Dari yang gua tangkep di film Pirates of Silicon Valley, yang bercerita tentang rivalitas Steve Jobs (Apple) VS Bill Gates (Microsoft), Sang perintis Apple, Steve Jobs, juga dikenal sebagai orang yang memiliki visi masa depan, dia seorang yang sangat perfeksionis, sedikit "rebel", namun tahu persis apa yang dia lakukan. Keinginan untuk menciptakan produk revolusioner berkualitas pun mengalir dalam darah setiap orang yang bekerja untuk Apple, inc. Diluar itu, Apple juga sangat konsisten dalam menerapkan strategi branding-nya. Sistem brand-nya didesain dengan sangat baik sekali. Kalo kita lihat setiap produk apple lahir dengan desain yang sederhana (gak ribet), yang membangun citra eksklusif pada brand Apple.

Nah, seperti hal nya strategi branding pada umumnya, tujuannya tentu saja meraih loyalitas pelanggan sebesar-besarnya. Dengan memiliki pelanggan yang loyal (bahkan sampai pada tataran yang paling ekstrim), tentunya akan lebih mudah untuk menjual produk kepada mereka. Ini sebenarnya yang terjadi pada Apple dan produk-produknya di mata para penggunanya. Pada prakteknya, jika kita lihat, Apple tak segan-segan untuk membuat desain eksterior dan interior toko-nya (Apple Store Retail) semegah mungkin. Ini adalah salah satu strategi Apple dalam melancarkan brand experience, dimana setiap orang yang masuk kedalam Apple Store akan merasakan dan "berkenalan" langsung dengan sifat dan karakter brand Apple.

Tak hanya produk dan desain tokonya, brand Apple juga didukung oleh komunikasi yang sangat brilian yang membentuk citra dan kepribadian brand Apple. Pernah lihat seri iklan kampanye "Get A Mac" nya Apple? coba anda akses situs Apple dan lihat beberapa versinya. Karakter "PD", "cool", "young", "simple", "nakal" dan lain sebagainya sangat terasa pada setiap versi iklannya. Gaya tutur dan gaya visual yang sederhana (cukup dengan background putih, dan dua orang yang sedang berdialog, sebagai analogi Mac dan PC), sedikit banyak berpengaruh dalam membangun karakter brand Apple. Strategi iklan yang membandingkan beberapa kelebihan produk Apple (Mac) dengan PC, disisipi humor-humor pintar didalamnya, sangat menghibur dan orang yang menonton secara tidak sadar telah terpengaruh pada karakter brand Apple. Sekali-sekali coba anda buka situs YouTube dan coba lah ketik "Apple" pada search box nya. Anda akan menemukan banyak sekali tiruan-tiruan iklan Apple dan Mac, baik yang berisi hujatan atau sanjungan terhadap Apple dan produknya. Inilah salah satu dari efek brand Apple, baik yang ternyata menghina maupun memuja, ternyata pengaruhnya besar sekali!

Akumulasi dari beberapa contoh diatas, akan sangat terasa pada Mac User. Brand dan strategi branding Apple telah merasuk jauh kedalam orang-orang yang kita sebut "Mac User" (atau apapun itu namanya, "mac lover", "mac freak", "mac enthusiast", dll). Mereka akan secara sukarela membeli, mengagumi, dan bahkan membela setiap produk yang dirilis oleh Apple. Mereka (Mac Users) bahkan rela mengganti identitasnya dengan cara menyamakan identitas mereka dengan identitas Apple. Disini lah bagian teratas dari strategi branding bekerja dan ini lah yang terjadi saat ini pada Apple, Mac dan Mac Users diseluruh dunia.

Jadi kalo balik lagi ke beberapa pertanyaan yang gua kutip dari MWI diatas, jawabannya "ya betul … ":) cuman pertanyaan yang "identik dengan keglamoran", kayaknya semua gadget juga identik sama keglamoran deh .. :) Sebenernya kuncinya satu … Loyalitas … oh iya, masalah loyalitas (yang bahkan berlebihan) ini juga pernah dipertanyakan oleh seorang blogger di blognya, yang beberapa hari kemarin sempet gua baca. (coba lihat sub "perfeksionis", beliau menulis Anda akan di lempar bakiak, jika menghina produk Apple di depan Apple User … hehehhehe)

Gua bikin bagan yang menggambarkan beberapa touch point dari strategi brand Apple. Coba lihat dan rasakan disetiap output nya. Anda akan merasakan feel dan karakter yang konsisten dan sangat terencana, dan semua ini membangun brand Apple secara utuh. Luar biasa. :)            
Apple Brand Touch Point